Mas Guru

Layar Duniaku

Trip to Okayama

Mimpi bersilaturahmi ke Okayama, menemui sahabat seangkatan, sudah terpatri lama. Alhamdulillah Jumat, 27 Febuari mimpi itu menjadi kenyataan.

Ibu Saeko Oda adalah pensiunan guru SD yang aku kenal saat mengobservasi kelas bahasa Inggris di SD Okazaki. Beliau pintar berbahasa Inggris dan waktu itu tengah mengambil video proses KBM yang disajikan oleh salah satu rekan satu kelas di Aichi University of Education.

Usai observasi aku pun pulang bersama Ibu Oda dengan mobilnya sampai ke Kariya Eki. Beliau sempat menyatakan niatnya untuk mengundangku makan siang pada suatu ketika.

Tanggal 22 Maret, dua minggu setelah aku diajak makan siang bersama Ibu Oda dan ketiga sahabatnya, aku mengundang mereka berempat makan siang di lobi apartemenku. Aku memasak nasi kuning, mie goreng, kerupuk, dan opor ayam.

Di kesempatan itulah Ibu Oda mengutarakan niatnya bahwa dia bersama kerluarganya akan ke Himeji, dekat Okayama.

“Jika Tus ingin, supaya tidak takut tersesat, kamu bisa ikut mobil kami ke Okayama. Nanti dari Himeji kamu tinggal naik kereta ke Okayama kurang lebih selama 1 jam setengah,” tawar Ibu Oda membuatku senang.

Akhirnya pada hari yang telah ditentukan kami bertiga berangkat ke Okayama. Pukul 12.30 Ibu Oda menjemputku di apartemen kampus. Kami kemudian meluncur ke rumahnya untuk menjemput suaminya.

Perjalanan ke Okayama cukup melelahkan. Suami Ibu Oda mengendarai mobilnya dengan kecepatan rata-rata 60-70 km/jam. Jalanan yang kami lalui begitu mulus dan tidak ada kemacetan sedetik pun.

Selama perjalan kami ngobrol banyak tentang Indonesia dan Jepang. Karena aku lebih nyaman berbahasa Inggris, Ibu Oda menjadi sibuk menterjemahkan ucapanku agar bisa dipahami oleh suaminya. Begitu pula ucapan suaminya dalam bahasa Jepang dia terjemahkan ke dalam bahasa Inggris agar aku bisa memahaminya.

Sekitar pukul 17.05 kami tiba di Himeji. Aku diantar ke sasium Himeji oleh Ibu Oda untuk membeli tiket. Keretanya saat itu berangkat pukul 16.10 sehingga aku harus menunggu sekitar 1 jam di stasiun.

Di kereta menuju Okayama aku usahakan membaca Laskar Pelangi agar tidak mengantuk. Pada detik-detik akhir tiba di tempat tujuan, aseorang gadis berkebangsaan Philipina duduk di sampingku. Kami ngobrol berbahasa basi sambil berkenalan dan dia ternyata akan turun di stasiun yang sama.

Dengan meminjam HP Softbank si gadis Philipina yang bernama Grace itulah aku berhasil menelpon Mas Teguh, sahabat yang akan kukunjungi. Dia sudah menunggu kedatanganku di sepan pintu keluar stasiun.

Bertemulah aku dengan Mas Teguh dan sebelum ke apartemennya kami mampir ke sebuah restoran sushi (ikan mentah) untuk makan malam.

Naik bis kami akhirnya bisa sampai ke apartemen Okayama University. Di sana aku bertemu dan ngobrol dengan seorang mahasiswa asal Pakistan.

Aku juga berkenalan dengan Pak Nadi, suami seorang dosen dari Sumatra Barat dan Mas Aman.

Hari Minggu sore aku kembali ke Kariya bersama Ibu Oda dan suaminya.

Sungguh silaturahmi ke sahabat yang jauh di mata begitu menyenangkan dan menyejukkan jiwa.

March 9, 2009 Posted by tus5800 | Uncategorized | | 1 Comment

SI PEMURAH HATI TELAH PERGI

Namanya Mbok Rosidi. Aku mengenalnya sejak kanak-kanak karena salah satu anaknya, Slamet, adalah teman sekelasku di SD. Aku sering bermain di rumahnya dan tiap kali waktu makan siang tiba, Mbok Rosidi mengajakku makan bersama Slamet. Kami berdua diperlakukan sama; saat Slamet menerima satu potong telur goreng, aku pun diberikan sama.

 

Saking dekatnya, sampai aku kuliah di perguruan tinggi, meskipun Slamet harus merantau ke Bandung, aku tetap dianggapnya bagaikan anak sendiri. Tiap kali pulang kampung karena jatah uang habis, begitu aku silaturahmi ke rumahnya, Mbok Rosidi menyambutku dengan begitu gembira dan selalu memintaku makan masakan yang telah terhidang di meja seadanya. Saat pamit, berbagai makanan kering telah disiapkan olehnya untuk dibawa sebagai bekalku saat kembali ke Semarang. Rempeyek kacang atau ikan teri, oseng-oseng tempe kering, ikan kolam goreng, sesisir pisang, dan serundeng (parutan kelapa goreng) adalah hanya beberapa contoh makanan yang telah banyak kuterima dari tangan Mbok Rosidi yang begitu murah hati.

 

Mbok Rosidi adalah sosok Ibu yang polos; apapun yang dirasakan mengganggu pikiran, selalu beliau ceritakan padaku sambil meminta nasehat. Padahal aku sendiri merasa masih sangat hijau dan tidak pantas untuk menasehati seorang Ibu yang telah makan garamnya kehidupan. Tetapi itulah beliau; dari ceritanya, aku belajar banyak hal tentang kehidupan termasuk bagaimana harus berbakti kepada orang tua.

 

Hingga aku menikah dan mempunyai anak, sosok Mbok Rosidi tidak pernah berubah; tetap murah hati dan menginginkan kami senantiasa menjalin silaturahmi. Hobinya yakni menanam sayur mayur di sawah dan kebun membuat kami setiap kali masa petik tiba banjir kangkung, bayam, terong, dan kacang panjang.

 

“Segini cukup ya. Kalau kebanyakan, Mas Tus bisa membagikannya kepada kakak-kakak Mas Tus,” begitulah kata-kata Mbok Rosidi setiap kali memberikan seonggok sayuran yang telah dibungkus dengan kantong plastik besar. Jika sesekali aku menolak pemberiannya karena di rumah kami memang masih punya banyak sayuran; beliau tetap saja ngotot atau meletakkan barang pemberiannya itu di cantelan sepeda motorku. Saat panen padi tiba beliau juga mengirimi kami dan ibu kandungku satu tenggok beras dengan berbagai sayur atau makanan di atasnya.

 

Kedua anakku pun, Ayu dan Ita, tidak berbeda dengan ayahnya, tiap kali kuajak silaturahmi ke rumahnya, keduanya juga merasakan buah manis kemurahatian Mbok Rosidi. Semua makanan di almari beliau tunjukkan dan kami disuruh memilih mana yang ingin kami bawa pulang.

 

Sayang, sekitar tiga tahun yang lalu Mbok Rosidi yang kira-kira berusia 50 tahun itu menderita diabetes dan sering keluar masuk rumah sakit. Saat aku pulang ke Indonesia Februari lalu, kami masih sempat bertemu dan seperti biasa ngobrol sana sini terutama tentang apa yang dirasakannya sebagai seorang Ibu yang masih memiliki anak ragil, sementara anak-anak yang lain sudah menikah dan merantau jauh.

 

Aku masih bisa merasakan erat dan dinginnya jabat tangan beliau saat aku pamit akan kembali ke Jepang.

 

“Saya berdoa Mas Tus sehat dan studinya lancar serta keluarga di sini juga selalu baik. Tolong doakan saya ya agar sehat dan bisa ketemu mas Tus lagi.” Itulah kata-kata terakhir yang kudengar dari bibir kering Mbok Rosidi di belakang rumah saat melepas kepergianku kembali ke Jepang. Aku tahu, dia tengah merasakan betapa pedihnya sakit yang telah lama diderita.

 

Dan tadi malam, saat kutelepon keponakan di kampung halaman, dengan suara parau dia mengabarkan bahwa malam Jumat kemarin (5/12/08), setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, Mbok Rosidi dipanggil menghadap kembali kehadirat Illahi. Innalillahi wainnailaihi rojiun.

 

Di jalanan kampus nan sepi, begitu keluar dari telephone box, aku menangis, sesenggukan. Kupandangi bulan berbentuk sabit di langit; tapi yang tampak oleh mataku wajah Mbok Rosidi. Aku meraung sambil mengayuh sepeda. Di kamar, fikiranku buyar; bayangan pertemuan demi pertemuan dengan Mbok Rosidi silih berganti muncul di kepalaku, sementara kedua mataku banjir air mata. Aku terkulai lemas sambil memegangi bibir tempat tidur. Ada rasa bersalah terasakan begitu dalam di dada ini; selama ini aku sering cuek mendengarkan keluh kesah seorang Ibu yang begitu polos dan jujur. Aku juga tidak pernah berbicara dengannya lewat telepon, padahal aku tahu anak lelaki ragilnya yang bekerja di lembaga kursus kami, jelas-jelas memegang handphone.

 

“Maafkan saya, Mbok. Ikhlaskan kepergian Mbok bertemu Allah, Sang Khalik yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Meskipun sungguh berat dan pilu, kami,  anak-anakmu dan seluruh orang yang selama ini begitu mencintai Mbok, berusaha tegar dan ikhlas seraya berdoa semoga Allah SWT yang Maha Melihat mengampuni segala dosa dan kesalahan Mbok serta memasukkan Mbok ke dalam golongan orang-orang yang selamat. Kami menjadi saksi Mbok adalah orang yang paling murah hati yang pernah aku temui dan Allah akan amat mencintai orang-orang yang dermawan seperti Mbok.”

December 7, 2008 Posted by tus5800 | Uncategorized | | No Comments Yet

Teaching English takes teamwork

Tuswadi ,  Aichi, Japan   |  Sat, 10/25/2008 1:02 PM  |  Opinion in JAKARTA POST

Teaching English in primary schools is not an easy task. It needs careful steps and appropriate techniques so that students enjoy the lessons and learn the language well. One of the characteristics of children is that they are fond of being noisy during lessons; to anticipate this, teaching English in a team may be preferred.

In one of the Japanese primary schools where the writer has monitored classes once a week, namely Shinden Primary School-Kariya City, the English teaching is conducted by a team of teachers. This program has been practiced for years with financial support from the government.

The main instructor is the classroom teacher, while the volunteers who conduct the lessons with each student group are assistant English teachers, mostly foreigners from Russia, Indonesia, Germany, Brazil, China, the Philippines and Myanmar. They are international students and English teachers living near the school.

The classroom teacher’s main job is making the lesson plan and preparing the materials and teaching aids to be presented, along with the instructions to the students and teaching team on the required language learning tasks. Because it is a primary school English lesson, most of the activities comprise playing games that encourage students to actively practice speaking English by using short expressions or sentences, with oral examples or routines set up by the team teachers for each step.

The class students are divided into groups of 3-4 pupils each. Each student group is led by one teacher. Then based on the instructions given by the classroom teacher, they do the language activities based on the lesson plan.

For several reasons, this program is both successful and effective.

Firstly, it is very helpful for the classroom teacher in managing the class. She just gives instructions on what to do and watches the class learning English. She also can observe the effectiveness of her lesson plan and listen to the good English of each team teacher.

Secondly, each student gets sufficient attention from their group teacher so that they can learn effectively. Next, the students tend to learn good pronunciation from the team teachers because most of them are good speakers of English.

Could this creative way of teaching English be done in Indonesian elementary school English classes? Of course, it could be done here too. Elementary school English teachers could work together with students from the English department of a nearby university.

Those who have already done the Practice Teaching Program at school or (PPL), are a good resource to help to carry out effective English teaching in a team. Or in the beginning, teachers can ask for the assistance of the English teachers from local high schools.

Of course some funding support is needed to help pay the transportation fees of the team teachers. Shinden Primary School in Japan gives 2000 yen per meeting for each team teacher to cover their bus fares.

The steps are as follows; firstly, the school manages the timetable of the English lesson. It should be done in the afternoon after one o’clock p.m. In Shinden Primary School, English lessons take place from 14.30 to 15.30. At this time most of the foreign students who act as team teachers are free, so that they can come to the school.

Secondly, just as the Japanese primary English teacher does, the classroom teacher can make the lesson plan and materials for the target students, including the required teaching aids. It should be kept in mind that the main skills taught to primary students are listening and speaking. Thus, the activity is mostly oral communication. Then, the teacher explains the language activities to the team teachers before the lesson begins. Finally, on the day and at the time designated the lesson is held, involving the whole team.

If this teaching technique is well-prepared and conducted regularly, at least the classroom teacher will learn better English teaching techniques from what she has observed during the lessons, so that later her ability to teach students herself will be improved. If there is a discussion forum with the team teachers after the lesson, she will receive feedback and advice on how to improve the effectiveness of the lesson.

Furthermore, collaborating with the students of a university English department and English teachers at a high school will be a good start towards ensuring continuity in learning English so that in the future the students of junior high schools will not have to repeat the use of the same English materials that will have been learned and mastered in elementary school.

The writer is a high school English teacher at Sigaluh Banjarnegara 1 and a fellow at the Monbukagakusho Teacher Training Program at Aichi University of Education in Japan. He can be reached at tus5800@yahoo.com

November 16, 2008 Posted by tus5800 | My Publication | | No Comments Yet

Belajar dari Sepucuk Surat

Senin, 3 November 2008 | 10:43 WIB, Harian Kompas edisi Jawa Tengah di kolom FORUM  

Oleh Tuswadi

Di zaman modern dan canggih ini, hubungan antarmanusia semakin mudah. Berkomunikasi dengan orang yang terpisahkan oleh pulau, laut, bahkan samudra sekarang ini tidaklah sulit. Kita bisa memanfaatkan peranti komunikasi seperti telepon dan internet. Namun, belum semua kalangan dapat menikmati kedua layanan ini sehingga korespondensi melalui surat kertas masih vital keberadaannya.

Surat-menyurat merupakan kegiatan pembelajaran yang sangat berguna bagi anak didik di sekolah. Bukan hanya tata cara tulis dan kirim surat lamaran pekerjaan yang bakal didapatkan, lebih dari itu manfaat lainnya akan memberikan nilai tambah bagi pengalaman hidup siswa baik di masa sekarang maupun akan datang.

Kebiasaan surat-menyurat atau berkirim-layang di kalangan pelajar dimulai dari tingkat sekolah dasar perlu digalakkan kembali dengan sedikitnya tiga keuntungan.

Pertama, menulis surat merupakan wahana yang cocok bagi anak didik untuk belajar menuangkan ide, gagasan, dan perasaan di atas kertas secara bebas tetapi hati-hati tanpa dihantui rasa takut salah. Jika pada pelajaran mengarang guru berhak mengoreksi dan menilai tulisan siswa, pada kegiatan surat-menyurat siswa dibiarkan berekspresi sesuai dengan suasana hati.

Tidak sedikit murid yang hidup jauh dari orangtua karena ayah atau ibunya harus merantau jauh untuk mencari nafkah. Kebekuan komunikasi di antara keduanya dapat dicairkan jika si anak mau berkirim surat kepada ayah/ibunya. Bahasa hati melalui goresan tinta pena di dalam surat dapat tersimpan dengan baik untuk dibaca berulang-ulang sebagai pelepas rindu. Uniknya, dalam komunikasi melalui surat, biasanya anak cenderung menggunakan bahasa terhalus yang jarang digunakan dalam komunikasi lisan face to face. Lebih dari itu, tidak sedikit orang yang kaku berubah menjadi halus atau gampang haru saat membaca sepucuk surat dari orang yang dicintainya.

Kedua, melalui surat, siswa dapat menjalin tali persahabatan dengan kawan dari berbagai daerah untuk saling tukar informasi termasuk berbagi adat dan budaya (culture sharing) yang akan semakin mempertebal rasa persatuan dan kesatuan generasi muda.

Saat seorang siswa secara terus-menerus menjalin pertemanan dengan sahabat pena dari lain daerah bahkan lain provinsi akan sangat memungkinkan terjadinya pertukaran adat dan budaya langsung dari pelakunya. Hal ini akan berbeda dengan ketika kita belajar adat dan budaya dari membaca atau melihat berita di media massa yang biasanya ditulis oleh wartawan/reporter. Subyektivitas sang penulis atau peliput berita yang notabene bukan pelaku adat atau budaya sedikit banyak mengurangi orisinalitas informasi yang tersampaikan.

Jika kebiasaan korespondensi ini bersifat langgeng, bukan tidak mungkin kumpulan surat cantik untuk dan dari sahabat pena suatu hari akan menjelma menjadi karya sastra besar yang patut dinikmati oleh khalayak. Sebagai contoh, salah satu karya sastrawan ternama Kahlil Gibran berupa kumpulan surat untuk dan dari kekasihnya.

Ketiga, kegiatan korespondensi secara dini di kalangan anak sekolah dasar akan mengenalkan dan mendekatkan siswa pada keberadaan serta fungsi PT Pos Indonesia serta memberikan pemahaman kepada mereka tentang tata cara menulis dan mengirimkan surat melalui jasa pos. Anak bangsa

Kita tahu bahwa tidak semua anak bangsa dapat mengenyam pendidikan di sekolah menengah. Kapan lagi mereka akan mempelajari hal surat-menyurat kalau tidak di bangku sekolah dasar. Saat pihak sekolah dasar lalai atau lupa menyampaikan pembelajaran korespondensi, bisa dibayangkan berapa juta orang Indonesia yang tidak mengenal dunia surat-menyurat. Akibatnya, akan ditemui banyak kesalahan lucu pada surat-surat di kantor pos, misalnya penulisan nama alamat yang dituju terbalik dengan penulisan nama si pengirim sehingga surat yang dikirim akan kembali ke si penulisnya. Penempelan prangko yang salah tempat bahkan penggunaan prangko bekas untuk berkirim surat serta pelipatan kertas surat yang kurang tepat.

Adapun langkah penggalakan korespondensi di kalangan peserta didik adalah sebagai berikut. Pertama, guru sekolah dasar dapat memperkenalkan keberadaan media cetak seperti koran dan majalah anak kepada murid yang sudah pandai membaca dan menulis (siswa kelas IV- VI). Koran dapat dipilih yang mempunyai sisipan lembaran khusus anak. Di lembaran media tersebut biasanya terdapat rubrik surat- menyurat atau karya siswa seperti pantun, puisi, dan gambar di mana siswa dapat menemukan banyak alamat sebagai calon sahabat pena.

Lalu, siswa diminta menulis alamat pengirim surat atau karya berikut sumber media cetaknya sebanyak mungkin sebagai bank alamat teman korespondensi.

Selanjutnya guru dapat memberikan contoh-contoh surat sebagai model atau acuan siswa dalam menulis-layang.

Selesai menulis, tidak ada jeleknya siswa diminta menfotokopi surat sebagai arsip pribadi. Barulah kemudian, setelah surat terbungkus rapi lengkap dengan penulisan alamat, murid dalam satu kelas diajak mengirimkannya ke kantor pos terdekat. Kegiatan tatap langsung dengan pegawai pos dan melihat dari dekat suasana kantor pos merupakan pengalaman mengesankan dan berharga bagi siswa sekolah dasar.

Bagi siswa yang paling awal menerima balasan surat dari sahabat pena, guru dapat memberikan hadiah penyemangat dan jika memungkinkan menyuruhnya membacakan surat tersebut di hadapan teman sekelas.

Di tingkat sekolah menengah, selain membudayakan korespondensi antarpelajar, pihak sekolah dapat menggelar lomba tulis surat yang disesuaikan dengan isu-isu terkini. Misalnya pada Hari Pendidikan Nasional, sekolah bisa mengemas lomba tulis surat siswa kepada kepala sekolah atau kepala dinas pendidikan. Di musim pilkada dapat dilaksanakan lomba tulis surat kepada calon bupati. Di musim pilpres, dapat dibuka lomba tulis surat kepada calon presiden. Memperingati Hari Ibu, siswa dapat diarahkan untuk mengikuti lomba tulis surat untuk ibu, dan sebagainya.

Melalui lomba di atas, otak, imajinasi, dan kreativitas anak didik dalam menuangkan ide, gagasan, dan perasaan sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya sebagai pelajar akan semakin terasah.

Saat kebiasaan berkirim dan berbalas surat sudah tertanam baik di kalangan siswa, niscaya ke depan para generasi bangsa ini tidak akan kesulitan lagi dalam mengekspresikan buah pikirannya baik secara lisan maupun tulis. Tuswadi Guru Bahasa Inggris SMAN 1 Sigaluh, Banjarnegara, Jawa Tengah, Kini Sedang Menuntut Ilmu di Aichi University of Education-Japan Halaman D

November 16, 2008 Posted by tus5800 | My Publication | | No Comments Yet

Potensi Pengajaran Bahasa Inggris

Senin, 11 Agustus 2008 | 01:22 WIB

Tuswadi Koesnadi, S.Pd

Pengajaran bahasa asing di sekolah dasar bukan barang baru di Indonesia. Saat ini banyak SD, baik di perkotaan maupun di pedesaan, telah berani mengenalkan bahasa Inggris, khususnya kepada siswa kelas IV–VI. Berbekal pelatihan dan ilmu terkesan seadanya, guru kelas bercas- ciscus menyampaikan materi pelajaran.

Potensi pengajaran bahasa Inggris di sekolah dasar untuk menunjang kesuksesan siswa dalam mempelajari bahasa internasional ini di sekolah lanjutan sangatlah besar. Semakin dini peserta didik mempelajari bahasa Inggris diharapkan semakin mudah mereka menguasainya di masa mendatang.

Permasalahannya adalah kredibilitas guru kelas dalam pengajaran bahasa Inggris masih tanda ”Tanya” besar. Jika yang diperoleh siswa SD adalah ilmu yang keliru, maka akan amat berbahaya bagi keberlangsungan (continuity) pembelajaran bahasa Inggris di jenjang pendidikan berikutnya.

Belum lagi saat siswa kesulitan dan cara mengajar gurunya tidak mengena atau membosankan, maka motivasi dan minat mereka lambat laun melemah bahkan hilang.

Di Jepang, kemampuan komunikasi dalam bahasa Inggris di kalangan guru SD, SMP, bahkan SLTA tidak sebagus yang kita bayangkan. Di sejumlah SMP dan SMA yang penulis kunjungi, proses kegiatan belajar mengajar (KBM) bahasa Inggris hampir 80 persen dalam bahasa Jepang.

Untuk melejitkan potensi pengajaran bahasa Inggris siswa SD di Tanah Air, merujuk yang penulis saksikan di SD-SD Jepang, setidaknya ada lima langkah cerdas yang seyogianya ditempuh guru kelas.

Pertama, guru harus mempelajari dan menguasai metode serta teknik pengajaran bahasa Inggris untuk tingkat SD. Di SD, keterampilan bahasa yang diajarkan adalah mendengarkan (listening) dan berbicara (speaking). Materi, pengenalan kosa kata dan kalimat sederhana.

Kedua, secara terus-menerus guru mempelajari untuk menguasai materi.

Ketiga, untuk melakukan langkah 1 dan 2, pihak sekolah memfasilitasi guru kelas untuk mendapat pelatihan memadai. Tanpa pelatihan cukup, sulit bagi guru menguasai teknik dasar pengajaran bahasa Inggris.

Keempat, guru melakukan lesson study secara pribadi maupun berkelompok. Di Jepang, para guru dari berbagai SD sering bertandang ke SD yang dipandang bagus dalam pengajaran bahasa Inggris. Di sana mereka menyaksikan langsung proses pembelajaran bahasa di kelas dari awal sampai akhir sambil mencocokkan setiap kegiatan dengan lesson plan yang mereka terima. Mereka juga mendapat penjelasan guru pengajar tentang proses belajar-mengajar sebelumnya, disusul diskusi. Sering pengunjung lesson study membeludak, banyak pengamat bekerja dari balik jendela kelas.

Lesson study dapat juga dilakukan guru dengan bertandang ke tempat kursus. Pengalaman- pengalaman dari lesson study ini akan memperkaya imajinasi dan kreativitas guru kelas dalam mempersiapkan dan menyampaikan materi kepada siswa dengan lebih baik dan menarik.

Kelima, guru harus cerdas dan kreatif membuat alat bantu pengajaran. Perlu aneka bentuk dan warna untuk mengajar, juga aktivitas permainan yang unik dan menarik, juga lagu anak-anak berbahasa Inggris. Di kelas I-IV, siswa tidak melakukan kegiatan tulis-menulis. Tak ada tes agar siswa tidak terbebani, supaya motivasi belajar bahasa Inggris mereka tetap terjaga.

Hasilnya? Diharapkan bekal bahasa Inggris yang didapat di bangku SD akan membuat siswa lebih mudah dan percaya diri mempelajarinya di sekolah lanjutan dengan tingkat kepahaman dan kefasihan di atas rata-rata.

Tuswadi Koesnadi, S.Pd Guru Bahasa Inggris SMAN 1 Sigaluh Banjarnegara, Jawa Tengah

October 2, 2008 Posted by tus5800 | My Publication | | No Comments Yet

Meniru Kehebatan Ekstrakurikuler Jepang

Hampir semua sekolah menengah (SLTP dan SLTA) di tanah air memiliki kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan selepas jam pelajaran itu menawarkan sejumlah pelatihan sesuai bakat dan minat siswa, seperti KIR (Kelompok Ilmiah Remaja), Pramuka, PMR (Palang Merah Remaja), English Club, Pecinta Alam, dan olahraga. Misalnya sepak bola, bola basket, bola voli, tenis, pencak silat, dan renang.

Ekstrakurikuler biasanya dilaksanakan satu kali seminggu selama satu setengah sampai dua jam. Di antara sekian banyak jenisnya, Pramuka sering diwajibkan bagi siswa kelas VII dan X. Selebihnya bersifat pilihan dan siswa boleh mengikuti lebih dari dua kegiatan ekstrakurikuler.

Pelatih atau tenaga pengajar ekstrakurikuler kebanyakan guru sekolah yang bersangkutan. Sekolah yang mampu biasanya mendatangkan pelatih profesional dari luar.

Potensi kegiatan ekstrakurikuler untuk mencetak generasi bertalenta di bidangnya sangatlah besar. Ini jika ekstrakurikuler ditangani dengan baik dan profesional oleh pihak sekolah. Dengan kata lain, ekstrakurikuler bukan sekadar kegiatan pengisi waktu luang atau rutinitas semata.

Di Jepang, ekstrakurikuler diputuskan oleh pihak sekolah sama pentingnya dengan program intrakurikuler. Dari sini akan diketahui bakat, minat, dan kemampuan siswa yang jika mendapat penanganan serius dari pihak sekolah bisa mencetak generasi terampil, termasuk atlet-atlet beken di masa mendatang.

Merujuk pada apa yang dilakukan sekolah-sekolah Negeri Sakura itu, ada sejumlah smart tips bagi pihak sekolah yang berkomitmen kuat untuk memberdayakan ekstrakurikuler agar membuahkan hasil luar biasa.

Pertama, pihak sekolah mempunyai dana memadai untuk melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler. Jumlah dana itu tentu saja disesuaikan dengan jumlah ekstrakurikuler yang dibuka dan pelatih yang akan didatangkan. Di awal tahun pelajaran penyusunan RAPBS wajib memperhatikan ketersediaan dana ekstrakurikuler.

Kedua, fasilitas dan alat penunjang latihan wajib dicukupi. Jangan sampai terdapat sepuluh siswa mengikuti ekstrakurikuler seni petik gitar, sementara gitar yang tersedia hanya satu atau duah buah. Itu pun sudah rusak.

Ketiga, sejak awal pihak sekolah mencari tahu bakat, minat, dan kemampuan masing-masing siswa. Guru BK bekerjasama dengan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan bisa melakukan berbagai macam cara cerdas untuk mengetahui talenta siswa.

Jika bakat dasar anak didik sudah diketahui, pihak sekolah mengarahkan siswa agar memilih salah satu ekstrakurikuler yang disukai sesuai bakat dan minatnya. Agar fokus, seorang siswa diharapkan hanya mengikuti satu jenis ekstrakurikuler. Pembatasan jumlah siswa dalam sebuah kelompok ekstrakurikuler juga penting agar setiap siswa mendapat perhatian yang cukup dari pelatih. Di samping itu, perlu adanya motivation training di kalangan siswa mengenai kegiatan ekstrakurikuler yang akan diikuti.

Berikutnya, pihak sekolah menyusun kurikulum atau silabus kegiatan ekstrakurikuler agar jelas tujuan, proses, target, dan evaluasinya. Tanpa adanya silabus, kegiatan ekstrakurikuler akan berjalan seadanya. Sangat memungkinkan bagi sebuah sekolah untuk melakukan studi banding ke sekolah-sekolah tersohor yang terbukti mempunyai ekstrakurikuler bagus.

Selanjutnya, perekrutan tenaga pelatih harus benar-benar selektif. Jika menginginkan hasil terbaik, tidak ada istilah pemerataan tugas guru untuk mengelola ekstrakurikuler. Hanya mereka yang benar-benar memiliki latar belakang dan kemampuan di masing-masing bidang yang dapat menjadi pelatih. Atau, pihak sekolah lebih baik mendatangkan pelatih profesional dari luar meski harus membayar lebih. Sementara guru bisa diaktifkan sebagai pengawas latihan.

Keenam, proses yang baik merupakan awal keberhasilan. Siswa berpotensi di bawah asuhan pelatih yang mumpuni akan sangat mudah berhasil jika proses kegiatan ekstrakurikuler berjalan menyenangkan, mengasyikkan, dan mencerdaskan. Dengan demikian, kedisiplinan berlatih wajib dijunjung tinggi.

Ketujuh, adanya kerja sama antarsekolah. Misalnya, untuk mengukur tingkat kemampuan siswa dalam penguasaan debat bahasa Inggris, English Club sebuah sekolah dapat mengundang English Club sekolah lain untuk Uji Lomba Debat atau tim bola voli sekolah A menantang tanding tim bola voli sekolah B. Melalui kegiatan ini, kemampuan siswa akan semakin terasah dan komunikasi antarpelatih juga terjaga.

Langkah terakhir, pihak sekolah wajib memfasilitasi siswanya untuk unjuk gigi di setiap perlombaan, baik di tingkat kabupaten, karesidenan, provinsi maupun nasional. Perkara kalah menang adalah nomor sekian; yang penting siswa mendapat pengalaman dan pembelajaran berharga di kancah pertandingan sehingga ke depan mereka berlatih lebih giat lagi sampai berhasil tampil sebagai juara.

Siapa tahu dari kegiatan ekstrakurikuler di sekolah yang tertangani dengan baik, kelak lahir ilmuwan genius seperti B.J. Habbibie atau atlet-atlet berbakat sekaliber Chris John dan Taufik Hidayat. Semoga!

Oleh : Tuswadi Koesnadi SPd, mahasiswa Teacher Training Aichi University of Education Japan (2007-2009)

Sumber : Harian Umum Jawa Pos, 13 Agustus 2008

October 2, 2008 Posted by tus5800 | My Publication | | No Comments Yet

Mari Sumbang Buku

PENDIDIKAN

15 September 2008
Suara Guru

MEMBACA berita di media massa mengenai beratnya beban orang tua membiayai sekolah anak, khususnya tentang pembelian buku teks, modul, dan lembar kerja siswa (LKS) setiap awal tahun pelajaran, penulis sebagai guru ikut merasa perihatin. Adalah benar adanya bahwa dari tahun ke tahun biaya sekolah semakin melambung, sedangkan pendapatan orang tua siswa tidaklah selalu demikian.

Penulis sangat setuju saat pihak sekolah (guru) tidak mewajibkan setiap anak didiknya membeli buku teks, modul, atau LKS baru, sepanjang siswa tersebut dapat memilikinya untuk menunjang keefektifan proses pembelajaran dengan meminjam kakak kelas atau perpustakaan.

Namun, ada kalanya siswa kesulitan untuk melakukan keduanya. Karena itu, tidaklah berlebihan jika penulis menyarankan mulai Tahun Pelajaran 2008/2009 ini pihak sekolah perlu menggalakkan kegiatan sumbang buku di kalangan siswa.

Pertama, guru meminta murid yang memiliki buku teks, modul atau LKS baru untuk menjaganya dengan baik. Apabila murid perlu mengerjakan tugas yang terdapat di buku tersebut, mereka dapat melakukannya di buku tulis (buku tugas) sehingga buku tetap terjaga kebersihannya.

Kedua, pada akhir semester, setelah ulangan akhir, guru meminta siswa mengumpulkan LKS untuk disumbangkan kepada adik kelas. Begitu pula dengan buku teks yang biasanya habis dipakai pada akhir tahun pelajaran, selesai ulangan kenaikan kelas atau ujian nasional, siswa juga diminta untuk menyumbangkannya melalui guru bidang studi atau petugas perpustakaan.

Siswa dapat memberikan nama identitasnya dan menulis pesan agar menjaga “warisannya” itu kepada adik kelas (di atas kertas kecil, ditempelkan
di halaman kedua buku/LKS).

Ketiga, pihak perpustakaan menyortir buku yang terkumpul. Jika ada yang rusak, dipisahkan dan tidak dipakai. Petugas perpustakaan dapat memberi tanda stempel sekolah/perpustakaan.

Keempat, setelah buku dan LKS tersortir dan disimpan dengan baik, pada saat yang telah ditentukan, siswa yang membutuhkan dapat meminjamnya di perpustakaan sehingga mereka tidak perlu membeli yang baru.

Namun penulis menyadari sepenuhnya risiko sumbang buku ini. Guru atau pihak sekolah tidak lagi menjual buku itu kepada semua siswa sehingga otomatis akan mengurangi pendapatan tambahan mereka.

Namun yang jelas, melalui langkah bijak ini, siswa akan terdidik untuk menghargai nilai/kegunaan sebuah buku/LKS dan mau berbagi dengan adik kelasnya, khususnya yang keadaan ekonomi orang tuanya prasejahtera.

––Tuswadi SPd, guru Bahasa Inggris SMAN 1 Sigaluh, Banjarnegara. Kini sedang menuntut ilmu di Aichi University of Education Japan.

October 2, 2008 Posted by tus5800 | My Publication | | No Comments Yet

Nilai Sebuah Penghargaan

Oleh: Tuswadi Koesnadi, Harian Umum Suara Merdeka Jawa Tengah, Rabu, 10-8-2005

DALAM dunia pendidikan, hadiah dan hukuman merupakan dua hal sangat penting. Keduanya sama-sama memiliki fungsi untuk mendidik, memotivasi, atau mendorong anak didik berbuat baik atau lebih baik.

Hadiah dipersembahkan kepada mereka yang berprestasi. Adapun hukuman diberikan kepada mereka yang melanggar norma yang telah ditetapkan oleh sekolah.

Hadiah adalah salah satu wujud penghargaan. Semua orang yang normal ingin mendapatkan penghargaan dari sesama. Dan, berbicara tentang penghargaan bagi siswa, sudahkah pihak sekolah memaksimalkan pemberian hadiah atau penghargaan kepada mereka yang telah mengharumkan nama baik almamaternya?

Pemberian hadiah atau penghargaan tidaklah mahal. Namun demikian, efeknya sangat luar biasa untuk meningkatkan semangat belajar dan berkarya bagi anak-anak didik.

Penulis masih ingat pada saat duduk di bangku SD. Setiap kali meraih ranking I, II, atau III di kelasnya, bersama teman yang berprestasi lainnya mendapatkan bingkisan dari sekolah. Bangga dan bersemangat! Itulah yang penulis rasakan.

Disaksikan oleh semua warga sekolah pada saat upacara bendera, Kepala Sekolah menyerahkan bingkisan dan menjabat tangan kami sambil mengucapkan kata-kata penyemangat, supaya terus belajar dan belajar. Sesampainya di rumah, dengan bahagia, penulis bercerita kepada keluarga tentang hadiah yang diterima. Bukan ayah dan ibu saja yang bangga dan senang, melainkan juga tetangga.

Pihak sekolah semestinya paham siapa siswa yang pantas diberi penghargaan. Misalnya, siswa ranking I, II, III di tiap kelas, siswa lulusan terbaik I, II, III, dan siswa peraih juara I, II, III dalam perlombaan baik bidang akademik maupun nonakademik minimal tingkat Kabupaten. Selain itu siswa yang paling aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler atau dalam kepengurusan OSIS, serta siswa yang paling bersih, rapi dan berkepribadian.

Penghargaan atau hadiah dapat berupa bingkisan alat-alat tulis, kitab suci, bahan pakaian, tas sekolah, atau benda-benda lainnya yang dibutuhkan oleh siswa.Hadiah uang, termasuk uang saku bagi mereka yang akan berangkat lomba ke suatu tempat/kota, juga selayaknya diberikan. Hadiah juga dapat berupa bebas luran Orang Tua/BP-3 selama beberapa bulan tergantung pada level kejuaraan yang diraih oleh siswa. Bahkan mungkin diajak berdarmawisata gratis pada akhir semester juga ide yang baik.

Simpulannya, kini tiba saatnya bagi pihak sekolah, baik itu TK, Sekolah Dasar (SD), maupun Sekolah Menengah untuk memberi banyak kepada anak didiknya setimpal dengan pengorbanan mereka dalam belajar dan berkarya demi nama baik sekolah, dengan sokongan dana orang tua/wali yang kian hari semakin mahal. Amat tidak senapas dengan misi pendidikan yang diembannya jika suatu sekolah mengambil “banyak” dari anak didik dan orang tua, namun minim dalam memberikan penghargaan. (56v)

- Penulis adalah guru bahasa Inggris SMA, Tentor Bahasa Lembaga Pendidikan Primagama.

October 2, 2008 Posted by tus5800 | My Publication | | No Comments Yet

Collaborating in the Classroom

Tuswadi ,  Aichi, Japan   |  Sat, 09/13/2008 9:58 AM  |  Opinion in Jakarta Post

Prof. Miyuki Takahashi from Aichi University of Education in Japan recently visited a primary school in the city of Anjo to hold am in-service training in the classroom. She taught the children of grade five about dates of the month. She started off by greeting the students, playing them a song and asking the children to sing together.

After that introduction, she began to teach the main material while more than 20 primary school English teachers and graduate students looked on. It was fantastic to see the children learning English so enthusiastically even without their regular teacher.

This kind of classroom-based practicum, called lesson study (jugyou kenkyuu), is practiced in Japanese primary schools. Teachers cannot generally evaluate themselves while they are teaching. Other teachers need to evaluate them and give their colleagues supportive criticism, suggestions or advice. This is the core reason for this kind of in-situ training practiced by Japanese teachers throughout the country.

Lesson study aims to improve the quality of the learning process conducted by a group of teachers collaboratively and continuously, through planning, doing, observing, and reporting on results. Lesson study is an application of the principles of Total Quality Management, an approach to improving the process and results of teaching and learning by continuously evaluating based on accurate data.

Based on my observations while attending lesson studies in primary and high schools in Japan, the three stages of this good program are: firstly, teachers prepare the lesson plan (PLAN); secondly, one of the volunteer teachers teaches the lesson (DO) while other teachers observe; thirdly, after the lesson, the volunteer teacher and the observers discuss the result of the teaching-learning process, delivering feedback to the volunteer teacher (REFLECT).

In the planning step, teachers in the lesson study group collaborate to make sure the lesson plan is student-centered. It begins with analyzing the needs and identifying problems which may occur — basic competence, the teaching method, lack of learning facility, etc., — so real conditions are accounted for during the teaching process. Together the teachers discuss possible solutions. Conclusions from the analysis becomes a part of the lesson plan.

Two important activities take place during the next step. The teacher carries out the lesson plan the group has created while other lesson study group members observe.

The third step is important because any effort to improve the quality of the teaching and learning will depend on how carefully the observing teachers analyze the carrying out of the lesson plan. Reflection takes the form of discussion among the whole group led by the principle or a teacher. The discussion starts by the volunteer teacher giving her or his impressions on the lesson just given, including explaining difficulties or problems that arose.

Then all observers speak in turn to respond or offer suggestions to the volunteer. In their response, the observers rely on data they wrote down during the observation. The issues discussed in this step can be used by all the participating teachers to better their own teaching.

Lesson study, highly developed in Japanese schools, is a very good system to make lessons more open and attractive, encourage teachers to be more open-minded and supportive of their colleagues and thus make the schools themselves and their students more open and creative.

The writer is a high school English teacher at Sigaluh Banjarnegara 1 and a fellow at the Monbukagakusho Teacher Training Program at Aichi University of Education in Japan. He can be reached at tus5800@yahoo.com

October 2, 2008 Posted by tus5800 | My Publication | | No Comments Yet

Better English teaching needed

Jakarta Post, Sat, 23 August 2008

In Indonesia, foreign language teaching in primary school is not something new. Nowadays many elementary schools both in big cities and even in small cities have bravely introduced English, especially in grades four through six.

The problem is in the capability of the teachers. Because in Indonesia, English is only a second or third language after Indonesian and local ethnic languages, it is understandable that many teachers are not proficient in English.

Apart from this, teachers who do not receive sufficient methods and training to teach English well will create more problems, because students will find the English-learning process boring.

Although it is very late for a country whose economy is the second largest after the United States, Japan, starting this year, has decided to make English a compulsory subject for elementary school students. It is still a controversial issue because many Japanese believe English should be taught at a later stage. But teachers are very enthusiastic to be able to teach English.

To improve the quality of primary English teaching in Indonesia, based on what I’ve learned from some elementary schools in Japan, there are at least five points of advice that Indonesian teachers may find useful.

First, the teachers must learn and master the methods and techniques of teaching English. The skills that are taught to students are mainly listening and speaking. The introduction of English vocabulary and simple sentences is also important.

Second, teachers should also continually learn to master the teaching materials.

Next, to successfully accomplish the first and the second goals, the school must help teachers obtain sufficient training. Without enough training, it is difficult for them to master the basic technique of English teaching.

In Indonesia, the National Education Ministry can cooperate with private institutions like companies that care about education to provide financial aid in holding regular English teaching training for elementary school teachers.

In Japan, teachers take part in lesson study sessions both individually and in groups. Teachers from various primary schools often go to other schools to observe the English teaching process. There they watch directly the teaching from the beginning until the end of class while matching each activity with a lesson plan they receive.

Then they get further information about teaching from the teacher in a discussion forum. It is often that the number of teachers joining the lesson study is overloaded so that many of them observe from the windows of the classroom.

Lesson study is now being highly developed in Japanese schools. It is a very good system to make lessons more open and attractive, make the teachers more open-minded and supportive of colleagues and thus make the schools themselves and their children more open and creative.

Lesson study also can be done by visiting private English schools. The experience wrought from the lesson study will enrich the imagination and creativity of the English teachers in preparing and delivering the materials to the students more interestingly.

Teachers must be smart and creative in making or preparing the teaching aids materials. In some schools of Japan, teachers are busy making the teaching aids after school hours. They must be varied and interesting; also many unique and challenging games and English children songs are used. Among the students of grades one through four there is no writing activity. There is no test, either. Thus, the students do not feel burdened and their motivation is always high.

Hopefully, with adequate and accurate basic English in primary school, students will find it easier and be more confident to learn English in higher grades.

The writer is a senior high school English teacher and a Monbukagakusho Teachers Training Program fellow at Aichi University of Education in Japan. He can be reached at tus5800@yahoo.com

October 2, 2008 Posted by tus5800 | My Publication | | No Comments Yet