Mas Guru

Layar Duniaku

Minggu, Senin, Selasa, Rabu

Minggu, 7 September 2008 hariku diisi dengan tidur melulu. Sebenarnya aku sudah berniat ikut pengajian KMI di Meidai, apa mau dikata semuanya tinggal mimpi.

Senin, 8 September apa yang aku alami sudah terlupakan. Yang jelas aku berpuasa dan sibuk menulis.

Selasa, 9 September siang aku diajak kang Amri jalan-jalan ke Osu Kanon. Niatnya dia mau membeli memori pasokon, malangnya sebagian toko komputer tutup dan yang buka tidak menyediakan apa yang kang Amri cari.

Aku membeli lukisan burung merak keemasan yang cukup besar dan panjang. Indah sekali jika dipajang di dinding. Harganya 2500 yen dari harga awal 2900 yen. Ya, semoga selama tinggal di Jepang aku sempatkan koleksi hiasan khas negeri ini agar rumahku di kampung bernuansa khusus dan selalu menginspirasiku agar selalu dinamis menuju perbaikan diri.   

Di Osu dekat pintu gerbang OSu Kanon aku perhatikan banyak sekali burung merpati berkeliaran di tanah berkerikil. Hewan-hewan itu sepertinya jinak; terbukti saat kudekati seolah aku memberikan pakan, mereka mendekat. Aku jadi teringat kata isteri seorang rekan, waktu hamil dan berkunjung ke Osu dia ngidam daging dara goreng. Sekuat tenaga suaminya berusaha menangkap seekor, tetapi gagal. Ibu tersebut akhirnya tidak bisa menikmati daging dara impiannya.

Detik demi detik kaki ini mulai payah! Kang Amri terus mengajakku dari toko ke toko mencari memori. Terakhir kami berhenti di Nagoya eki dan kang Amri mampir ke toko kamera. Aku tunggu dia di luar; kugunakan waktu yang tersisa untuk sembhayang ashar di tepian. Aku tak peduli banyak nihonjin memperhatikan aku berdiri, rukuk, dan sujud. Tidak khusyuk memang shalat di keramaian.

Kami pulang sekitar pukul 06.00 petang dari Nagoya station menuju ke Kariya. Sambil menunggu kedatangan free bus, kami duduk di dekat station berbuka. Menuku roti dan sebotol Vitamin Aqua. Sementara kang Amri melahap roti dan minum sebotol gede teh yang kami beli di sebuah supermarket di Osu Kanon.

Bis terlihat penuh, tetapi kami bisa duduk. Lelah dan agak kenyang, aku ketiduran di bis hingga tiba di Igayacho.

Hari itu istriku sempat berkabar bahwa paketan baju dariku sudah sampai. Alhamdulillah.

Hari ini, Rabu, 10 September, aku ketiduran sehabis shalat subuh hingga pukul 12.45. Aku teringat bahwa hari ini aku punya jadwal mengajar bahasa Inggris di Shin Anjo Shogako. Bergegas aku berwudhu dan ganti baju.

Melesat menggunakan sepeda othel, aku kejar bis hingga ke Igayacho station. Untunglah bis berhenti terhambat lampu merah. Setelah memarkir sepeda, aku pun naik bis berwarna merah putih itu.

Sekitar pukul 02.00 siang sang Kepala Sekolah menjemput kami di Shin Anjo eki. Hari ini aku berempat bareng rekan dari Myanmar, Turki dan Rusia.

Kami mengajarkan perkenalan diri dan nama-nama negara bersama siswa kelas V. Suasana yang panas membuat sebagian murid tak bersemangat. Ada juga yang nampak mengantuk.

Usai mengajar aku mampir ke kantor pos Shin Anjo dan berbelanja di Halal Food Shop. Lalu aku naik kereta ke Kariya Eki agar bisa tiba ke kaikan naik free bus dari sana.  Di bis aku tidur begitu nyenyak dan baru terjaga menjelang sampai di Igayacho.

Pukul 06.30 petang aku berbuka; pisang manis, teh dingin, indomie rebus campur ati ayam adalah santapannya. Tak lupa aku berbagi dengan rekan seiman di kamar sebelah.

Alhamdulillah, perut ini kenyang dan tubuh ini sehat dengan berkah puasa Ramadhan!

September 10, 2008 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Dua Hari yang Lalu …..

Dua hari yang lalu tepatnya hari Sabtu, aku diajak kang Amri mengikuti seminar di Aichi Daigaku Nagoya. Kami sengaja berangkat siang agar cukup mengikuti sesi kedua sehabis duhur.

Tepat pukul 13.00 kami tiba di kampus dan langsung registrasi dengan bayar cukup 1000 yen. Sebagai hadiah kami menerima sejumlah makalah dan buku amat tebal berisi tulisan-tulisan Jepang kuno.

Kami mengambil tempat duduk di depan agar jelas mengikuti jalannya seminar. Tampillah sejumlah mahasiwa dan dosen menyajikan makalahnya masing-masing disusul dengan forum tanya jawab. Total waktu setiap pembicara 45 menit saja.

Kepalaku lama kelamaan berdenyut-denyut. Bukan karena aku lapar karena memang sedang berpuasa; tetapi karena aku tidak mudheng dengan apa yang disampaikan oleh pembicara. Mereka semuanya berbicara dalam bahasa Jepang, sementara diriku hanya paham kalimat-kalimat sederhana dalam tegur sapa saja.

Untuk mengantuk tidak mungkin bagiku; karena kami duduk di bangku nomor dua dari depan. Sesekali saat kepalaku tertunduk dengan kedua mata tertutup, kang Amri menyenggol pundakku.

Kurang lebih 4 jam aku terpenjara di forum yang seratus persen menggunakan bahasa planet nihonjin. Pelajaran yang aku petik adalah  ternyata kebanyakan orang jepang itu saat memberikan materi seminar hanya baca makalah. Hampir tidak ada eye contact diri dengan audience. Makanya aku hanya semangat menangkap kalimat-kalimat sang pembicara saat dia menjawab pertanyaan peserta di forum tanya jawab karena ini berlangsung cukup komunikatif.

Tepat pukul 17.30 seminar rampung ditutup dengan penyerahan sertifikat pada sejumlah mahasiswa dan profesor. Aku sempat dikenalkan dengan Profesor yang super aktif dalam forum diskusi. Beliau sudah sepuh dan menjadi pengajar di Aichi Daigaku selepas pensiun.

Saatnya jalan-jalan ke Osu Kanon pun tibalah. Aku bermaksud berburu lukisan antik untuk omiyage rekan-rekan di kampung. Aku juga ingin mengoloksi dan memfigura lukisan buat dipajang di rumah. Sepertinya unik!

Di sebuah toko kami menemukan apa yang aku cari. Di situ tercatat ada diskon 30% per item. Aku pilih dua lukisan terunik dan membawanya ke lantai dua untuk dibayar.

Waduh kami kecele. Ternyata tidak ada diskon! Potongan harga berlaku bukan untuk barang yang kami beli. Ah dasar pedagang; kenapa label diskon ditempel tetpat di tempat lukisan yang berjejer di lantai satu?

Sudah terlanjur ambil, aku pun membayar kedua lukisan itu dan kembali berburu sambil cuci mata melihat-lihat komputer di toko-toko.

Sebelum pulang karena sudah malam, aku membeli sebuah lukisan mungil bergambar wanita memakai kimono berwarna keemasan. Aku juga membeli sebuah mouse buat note book-ku.

Kami sempatkan berbuka di sebuah taman dekat mall. Sebotol teh dingin dan roti manis jadi santapan pertamaku di malam itu.

Kami tiba kembali ke kaikan sekitar pukul 21.00. Usai mandi dan shalat, aku langsung tancap gas menulis di PC. Malam itu aku mendownload soal-soal Matematika berbahasa Inggris untuk aku koleksi sebagai bahan pengajaran di kelas rintisan Sekolah Standar Internasional.

Ada yang terlupakan malam itu; Chandra, anak sebelah kaikan menelponku bahwa pukul 20.30 sebenarnya keluarga Sassa San siap belajar bahasa Inggris bersamaku. Sudah 3 kali suami isteri dan anaknya yang akan tinggal di USA itu kursus denganku.

Ya, sudah. Kursus diundur minggu depan. Semoga aku bisa mengajar mereka dengan baik dan menarik seperti biasa! Amin.

September 8, 2008 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Ticket to Hiroshima

Kamis, 4 September sore aku kembali diajak kang Amri ke Kariya Eki untuk membeli tiket jalan-jalan ke Hiroshima. Seperti biasa kami pulang pergi naik bis gratis.

Lucunya saat berangkat kami ketiduran di kendaraan sehingga mau tidak mau harus ikut muter-muter hingga bis kembali melewati Kariya Eki. Ya, syukur kami masih diberi terjaga dan bangun pada hari dan tempat yang sama.

Karena ini adalah ketiga kalinya kami datang ke travel agent yang sama, aku jadi hafal dengan empat wajah staff wanita di situ. Berpakaian ala pramugari mereka melayani client dengan begitu ramah dan cekatan.

Kantor itu kecil tetapi tertata dengan apik. Di dekat tembok berdiri papan display berbagai leaflet dan brosur paket tour. Dua buah bangku tempat duduk untuk menunggu sepanjang dua meteran terletak menghadap meja layanan.

Di situ aku hanyalah penunggu karena kang Amrilah yang lancar berbahasa Jepang untuk membeli tiket. Usai urusan rampung, kami kembali naik free bus pulang!

Kuperhatikan penumpang bis dari hari ke hari sama, alias orang itu-itu saja; kakek nenek, dan murid catat mental (disabled students). Anak berusia 15 tahunan itu sepertinya baru pulang dari sekolah. Di kursi mereka lebih banyak bertingkah aneh-aneh, sesekali berbicara keras sambil memukul buku atau pipinya sendiri.

Aku merasa iba melihat mereka! Dan di sekolah betapa sabar dan telatennya para guru mengajar dan mendidik anak-anak tidak biasa itu. Di balik kelemahannya, mereka masih bisa pergi sendiri dan pulang tanpa menyusahkan orang lain.

Tiba di kaikan aku bergegas memasak. Menu berbuka hari itu oseng cumi pedas. Aku suka sekali ikan laut; sehingga dalam seminggu aku selalu usahakan membeli ikan tiga sampai empat kali di Used Store.

Aku juga suka kacang kedelai rebus; biasanya sambil mengetik, aku sesekali sambi dengan ngemil kacang bahan pembuat tahu dan tempe ini. Gurih plus asin!

Malam itu aku tulis artikel menanggapi berita penderitaan GURU TKI di Malaysia. Di Kompas dikabarkan bahwa guru TKI ini banyak mengalami kepedihan; gaji dipotong, kondisi tempat tinggal kurang layak, kelas yang tidak terorganisir, dan ketidakjelasan nasib usai habis kontrak.

Indonesia itu ternyata kaya guru; ada guru PNS, guru GTT atau Wiyata Bakti, Guru Kontrak, Guru Bantu, dan Guru TKI termasuk di dalamnya Guru Daerah Terpencil. Dari sekian jenisnya, guru TKI-lah yang mungkin paling tidak bahagia; sudah jauh dari keluarga di negeri orang, kesejahteraan mereka tak terjaga. Padahal mereka adalah guru-guru terpilih yang diseleksi secara ketat.

Aku bela guru TKI agar bisa diangkat menjadi guru CPNS sepulangnya. Sebagai kaum terpilih dan pilihah, mereka sepertinya jauh lebih layak untuk diangkat daripada oknum GTT atau Guru Wiyata Bakti yang kadang  banyak malasnya  dan nyaman menunggu giliran untuk diangkat. Pengabdian dua tahun mendidik anak-anak Indonesia (putra/putri TKI) pantas mendapatkan apresiasi lebih dari pemerintah!

Malam itu usai kirim artikel ke Kompas, kubayangkan suasana kampung di Banjarnegara. Semoga penduduk khusyuk berpuasa dan sempat berfikir untuk memilih yang terbaik di PEMILU 2009 nanti.

Pelan, mata ini terpejam sementara telingga mendengar nyanyian jengkerik di kebun sebelah kamar.

September 5, 2008 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Kejarlah Daku Kau Kutinggal …..

Malam Ramadhan jelang  hari ketiga, akibat minum kopi susu saat berbuka, aku tidak bisa tidur. Usai sibuk menulis, aku berwudhu dan membaca Alqur’an. Waktu menunjukkan pukul 02.30 dini hari.

Aku kangen keluarga di rumah; apalagi suara jengkerik yang beradu di kebun samping kaikan sungguh mengingatkan aku pada suasana rumah di kampung. Akh, karena masih malam, yang jelas semua keluargaku masih terlelap. Semoga Allah senantiasa menjaga mereka.

Pagi, sedianya aku dan kang Amri akan ke Kariya eki beli tiket jalan-jalan ke Hiroshima. Apa mau di kata kami sama-sama bangun kesiangan. Baru sorenya pukul 03.00 kami naik free bus menuju ke Kariya Eki. Untung belum tiba; karena suatu hal rencana membeli tiket tertunda. Hari pilihan kami masuk katagori penuh alias bus ke Hiroshima sudah di full-booked!

Usai dari travel agent, kami bergeas ke APITA Store untuk membeli bahan berbuka puasa. Kami masih punya waktu 10 menit hingga pukul 04.46 saat free bus tiba di Kariya Eki. Pisang, milk tea dan roti tawar kuputuskan beli.

“Ayo bergegas!” Kang Amri memberikan peringatan; waktu tersisa tinggal 4 menit. Tergopoh-gopoh kami melaju kaki ke bus station. Naik turun tangga membuat kami berpeluh!

“Oh, my God! Bus sudah tiba di Eki dan siap jalan!” Aku dan kang Amri mencoba melambaikan tangan pada sang sopir dari tangga dekat Eki. Sia-sia; bus tetap melaju! Up, lampu merah menyala! Bus pun berhenti 5 meter dari pemberhentian. Kang Amri mengajakku berlari mendekati pintu depan bus berwarna putih hijau muda itu.

“Kalian mau naik?” Mungkin begitu arti kata sang sopir. Saat itu ada dua sopir di bus. Yang satu berdiri di dekat pintu dan yang satu mengendarai bus.

Kami pun mengangguk dan pintu pun terbuka.

“Lega rasanya!” Bisikku lirih menahan nafas. Kulihat Kang Amri berkeringat laksana panglima habis berperang. Kami pun berhasil pulang naik free bus. Alhamdulillah!

Malamnya usai berbuka, aku membaca email dari editor Jakarta Post bahwa Redaksi akan mengirimkan honor tulisanku yang dimuat. Beliau tanyakan nomor rekeningku plus mengabarkan bahwa insya Allah artikel keduaku tentang Lesson Study in Japan akan dimuat dalam waktu dekat.

Mendapatkan lampu hijau, aku sempatkan buka kembali arsip artikel yang kukirim dan kucoba edit tambah sana sini agar lebih lengkap dan menarik untuk dibaca. Barulah kemudian aku kirim kembali ke editor Jakarta Post. Bismillah! Semoga dimuat. Amin.

Tiap kali mendapatkan kabar gembira, aku jadi sangat bernafsu untuk terus menulis. Tadi malam aku selesaikan tulisan tentang SMK yang saat ini sedang jadi Rajanya Sekolah untuk kukirim ke Kompas.

Hingga pukul 02.30 tadi malam aku tidak bisa tidur. Rampung menulis, aku coba tidur usai sahur; tetapi gagal! Akhirnya kuputuskan untuk membaca Alqur’an sekuatnya. Usai shalat subuh alhamdulillah mata sipit ini bisa terpejam dalam buaian penuh syukur.

September 4, 2008 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Berbuka di Hari Pertama dan Kedua

Hari pertama menjalankan ibadah puasa, wow segar dan semangatnya tiada tara. Mungkin karena malam sebelumnya aku bersahur cukup banyak plus minum tablet vitamin.

Siangnya kugunakan seperti biasanya untuk menulis. Ceritanya aku sedang bermimpi menjadi pemenang lomba tulis naskah fiksi untuk anak yang diselenggarakan oleh Depdiknas Jakarta. Lumayan dead-line-nya masih lama, akhir Oktober 2008. Hingga kini baru rampung 5 seri naskah yang sedang aku susun. Kisahnya seputar kelahiran putri pertamaku sampai hari ini. Sekaligus sebagai obat kangen pada kedua buah hatiku yang mulai beranjak besar!

Senin siang pukul 03.00 aku bersepeda angin ke kantor pos yang jaraknya kira-kira 3 kilo dari kampus. Maklum kantor pos di kampus tidak melayani EMS, jadinya kudu jauh-jauh kalau akan kirim sesuatu. Hari itu aku kirim paket pakaian dan souvenir. Karena berat, ongkos kirimnya 5600 yen!

Pukul 06.30 an aku berbuka! Akhirnya lulus juga jalani puasa Ramadhan perdana. Sembari mendengarkan lantunan “Tombo Ati”nya Opic di Youtube, aku nikmati segelas bubur kacang ijo. Usai shalat maghrib baru kusantap nasi, opor ayam dan segelas susu! Tak apa selama dua hari menunya sama karena ayam mentah di kulkas belum habis dimasak.

Malamnya sekitar pukul 08.00 aku ketiduran hingga 02.30 dinihari. Usai berwudhu segera kulaksanakan shalat Isya dan taraweh. Barulah kemudian aku memasak Indomie telur bahan sahur.

Selesai shalat subuh, karena masih mengantuk aku tidur lagi. Nah, inilah penyebab aku suntuk alias  lesu di siang harinya! Dengan berat, usai mandi dan shalat duhur aku paksanakan diri untuk menulis modul pembelajaan bahasa Inggris sambil mendengarkan musik bernuansa Ramadhan.

Pukul 01.00 aku ke Used Store; niatnya  berburu telur murah 98yen per 10 biji. Malangnya, saat diskon usai sudah. Akhirnya kubeli ikan cumi merah, kerang, dan cumi putih total 4 bungkus seharga 1050 yen. Mumpung lagi murah!

Habis belanja aku kembali ke komputer di lobi. Nulis lagi nulis lagi hingga waktu ashar.  Usai shalat once again back to writing!

Goreng ikan emas, buat sayur terong dan rebung bersantan aku lakukan mulai pukul 05.00 dan selesai tepat 05.45. Empat puluh menit ke depan jelang berbuka aku rampungkan MODUL SIAP UNAS 2009 SLTP!

Berbuka di hari kedua ternyata tidak seistimewa hari pertama! Hari ini memang ada kelesuan raga, dan nafsu makannya tidaklah seberapa. Tak apalah, yang patut disyukuri lidah ini masih bisa merasakan manisnya buah pepaya dan semangka serta lezatnya ikan emas goreng plus kuah lodeh made in sendiri.

Ramadhan, hari ketigamu kusambut penuh rindu! Kangen pada Rasul. Kangen pada Lailatul Qadar!

September 2, 2008 Posted by | Uncategorized | 2 Comments

Ramadhan Perdana

Hari-hari jelang Ramadhan cukup sejuk. Beberapa pagi dan sore terguyur hujan rintik-rintik membuat tubuh yang biasa gerah berubah adem. Dari jendela kamar kuperhatikan tanah datar samping International House; sebulan yang lalu penuh semak belukar, lalu dibabat habis oleh petugas kebersihan kampus sehingga tak satupun bulir rumput yang tersisa. Semua berubah menjadi tanah kering kosong!

Hujan pun hadir dan tak kutunggu lama, semi rerumputan bermunculan, laksana mayat-mayat di dalam kubur yang dibangunkan kembali oleh Allah seperti yang Dia lukiskan di dalam kitab-Nya. Oh, mungkinkah ini gambaran kebangkitan kelak? Tanah kering kosong  tanpa kehidupan, diguyur hujan dari langit, mendadak hijaunya rerumputan kembali ada.

Minggu pukul 10 usai mengajarkan bahasa Inggris pada seorang wanita China, aku bersemangat berangkat ke Meikodai mengikuti pengajian KMI. Dari Cyru eki, naik kereta sampailah aku ke Kanayama. Di sana aku bingung mau pilih berhenti di Fukiage atau Tsurumai. Usai memutuskan pilihan, dengan tiket di tangan aku bermaksud masuk ke dalam sub way. Seorang lelaki tua menyapaku keras “Myanmarjin?” Oh, beliau mengira aku orang Myanmar. Sambil berbicara dia menengadahkan tangan kanannya yang terisi sejumlah uang receh. “Hyaku, Hyaku!” Aku tidak paham, tetapi sepertinya dia bermaksud meminta uang untuk membeli tiket. Uang kembalian yang masih di tangan, lalu kuberikan padanya sambil lalu.

Kurang konsentrasi aku tersesat naik sub way. Untunglah aku bisa sampai ke Tsurumai dan berhasil menemukan Meikodai untuk kedua kalinya. Memang tidak enak pergi-pergi sendirian!

Sebelum pengajian dimulai aku sempatkan telepon isteri agar dia segera mengurus akta notaris lembaga kursus yang kami dirikan bareng seorang Pengawas di Dinas Pendidikan. Biar legal dan aman!

Usai shalat duhur dan makan siang bersama, pengajian pun dimulai bertema persiapan ibadah puasa Ramadhan. Sebenarnya aku amat merindukan berpuasa di tengah isteri dan anak-anak tersayang; tapi apa daya jarak jauh memisahkan.

Tanpa melupakan tradisi di kampung, sehari sebelumnya aku sempatkan tulis email untuk isteri tercinta. Pembuka Ramadhan sewajarnya diisi dengan sadakah untuk mereka yang kekurangan. Aku pun meminta isteri membeli beberapa kardus mie isntant dan dibagikan masing-masing 10 biji bagi para janda sekitar rumah. Biar anak belajar jiwa cinta kasih, aku nasehatkan agar kedua anak kamilah yang dibimbing untuk menyerahkan bingkisan mie itu pada yang berhak. Semoga isteriku tidak lupa pesanku ini.

Terus terang aku terdidik saling memberi sejak aku dekat dengan sebuah keluarga tetangga yang ibunya sangat murah hati padaku. Sejak aku kuliah di IKIP dulu, setiap kali pulang kampung, ibu itu selalu membawakan bekal makanan untuk aku bawa ke Semarang; ikan goreng, oseng tempe, ikan asin, srundeng (goreng parutan kelapa), dan lain-lain. Aku dianggap layaknya anak sendiri. Makanya hingga detik ini aku selalu meminta isteri di rumah agar benar-benar memperhatikan ibu yang satu itu.

Jika sewaktu di rumah aku makan besar (misalnya pakai ayam), aku meminta bagianku pada Ibuku tercinta dan membungkusnya memakai plastik. Lalu aku pun minta ijin untuk mengantarkan daging ayam goreng itu untuk ibu tetangga yang baik hati itu. Alhamdulillah sampai sekarang kebiasaan saling kirim beras saat panen atau makanan terbina baik di kedua keluarga kami.

Begitu banyak hikmah dan kebaikan dibalik saling berbagi ini. Pernah suatu hari aku begitu rindu makan ikan asin; malam itu aku jalan kaki ke toko atau warung untuk sekedar beli ikan asin karena ibuku yang sudah sepuh tidak mungkin pergi keluar malam.

“Maaf, Mas Tus, ikan asinnya habis dari tadi pagi,” jawab mba pemilik warung. Saat aku hendak pulang, mba itu menghentikanku seraya berkata:

“Maaf, Mas Tus. Ikan asin yang kami jual memang sudah habis; tetapi kami di rumah punya oseng-oseng ikan asin. Ijinkan kami membungkusnya sebentar buat Mas Tus.” Aku berusaha menolak halus tawarannya, tetapi lidahku benar-benar kangen dengan asinnya ikan laut!

“Memang masakan kami tidak selezat masakan Ibu Mas Tus, tapi ijinkan kami berbuat baik malam ini.” Akhirnya dengan haru kuterima pemberiannya seraya memuji kemurahan Illahi. Saat di rumah, Ibuku terkejut melihat bungkusan ikan asin itu dan aku pun menceritakan asal muasalnya.

Aku dididik Ibu untuk menghabiskan makanan dalam satu waktu. Maksudnya, saat Ibu memasak, semua makanan dihabiskan untuk dimakan dan dibagikan kepada orang-orang terdekat. Misalnya, masakan sarapan pagi ya habis pagi itu dan siangnya Ibu memasak lagi.

Makanya selama tinggal di kaikan, setiap kali masak, aku sempatkan selalu berbagi dengan rekan. Aku tidak suka menyimpan makanan. Dan alhamdulillahnya semua orang yang kubagikan makanan berkomentar bahwa masakanku lezat. Tapi ada seorang dari Myanmar yang pernah bilang makananku tidak enah, makanya aku jadi jarang berbagi dengannya. Takut makananku dibuang kan sayang!

Tadi malam aku dibangunkan pukul 02.30. Usai menghangatkan opor ayam dan membuat segelas kopi susu, aku pun bersahur. Khawatir teman-temanku terlambat bangun, beberapa dari mereka aku telepon. Anehnya rekan-rekanku dari Usbezkistan yang tinggal di Nagoya sulit sekali bangun, meskipun HP-nya aktif. Baru pukul 04.00 mereka bangun dan balik telepon! Siap bersahur!

Pagi kusambut penuh semangat! Semoga Ramadhan hari pertama ini adalah awal yang baik untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Amin.

September 1, 2008 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Guru dengan 9 Keponakan

Sampai hari ini aku mempunyai sembilan keponakan; 3 laki-laki dan 6 perempuan. Yang sulung, Riyanto  baru selesai S.1 Pendidikan Teknik Mesin UNNES. Kedua, Fitri Nurhayati, mahasiwa tingkat dua Pendidikan Ekonomi UNY.  Ketiga, Sulistiyaningsih, baru diterima di Pendidikan Sejarah UNNES. Dan selebihnya masih belajar di SMA, SMP, dan SD.

Alhamdulillah ketiga keponakanku masuk PTN lewat jalur PMDK. Aku masih ingat dahulu saat melihat nilai raport Riyanto terdapat nilai merah (Sejarah), kami sempat pesimis apa bisa dia diterima PMDK. Syukurlah waktu itu kriteria PMDK bukan nilai raport semata, alias ada tes tertulis. Riyanto sadar untuk bisa diterima dia harus meraih nilai tinggi di tes tertulis, sehingga kuperhatikan dia serius belajar nguplek-uplek soal-soal latihan. Dan akhirnya dia LOLOS & bisa menyelesaikan studinya selama 4.5 tahun dengan predikat sangat memuaskan ( IPK 3.00).

Lain halnya Fitri; awalnya dia daftar STPDN, gagal! Lalu STAN nihil. UMPTN juga tiada hasil. Akhirnya aku daftarkan dia ke UNY berbekal nilai raport yang bagus melalui jalur PBU Non Reguler dan diterima meskipun biaya SPP-nya dua kali lipat dibandingkan dengan PBU Reguler. No problem, yang penting dia bisa menikmati pendidikan di PTN yang bagus!

Terus Sulis, hari ini dia meluncur ke Semarang untuk daftar ulang ke UNNES. Awalnya dia diterima cadangan dan tentunya ini membuat kami semua deg-degan! Alhamdulillah dia diterima  dan pada tanggal 15 Juni lalu dia dinyatakan LULUS Ujian Nasional SMA. Aku sempat demam memikirkan kelulusannya dari SMA mengingat naiknya standar lulus dan penambahan materi Ujian.

Aku bahagia dan bangga melihat satu demi satu keponakanku kuliah dan insya Allah sukses meniti karir di masa mendatang. Aku  melihat mimpi-mimpiku dahulu pelan tetapi pasti menjadi kenyataan.

Dulu aku dikuliahkan oleh para kakak. Ini karena ayahku tercinta sudah meninggal dunia dan ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga. Aku sendiri bisa diterima di UNNES (IKIP Semarang) melalui jalur UMPTN. Saat itu kakak perempuan yang bekerja di Maluku membiayai Bimbinganku Menjelang UMPTN di Yogyakarta.

Setiap bulan semua kakakku (kandung dan ipar) iuran untuk membiayai keperluan hidup dan kuliahku. Sementara ibuku dengan khusyuknya mendoakan kesuksesanku tiada henti. Kalau aku pulang kampung, di malam hari saat menjelang tidur aku sering mendengarkan Ibu melantunkan ayat-ayat suci Alqur’an (Ayat-Ayat Pendek) sambil memuji-muji Gusti Allah dan mendoa. Beliau tidak hanya mendoakan saya, tetapi semua anak-anaknya yang berjumlah 5 orang.

Saat aku kekurangan uang, sementara jauh dari keluarga, aku memohon kepada Tuhan agar kelak saat keponakanku kuliah, mohon dicukupi segalanya, jangan sampai kelaparan seperti aku. Saya pun berbisik pada-Nya agar kelak diberi pekerjaan yang baik dan penuh berkah sehingga aku bisa membantu kakak-kakak menguliahkan anak-anaknya.

Hari ini aku belajar dua hal besar. Pertama, Kedalaman niat akan membuahkan hasil luar biasa! Membantu biaya kuliah para keponakan bukanlah barang ringan seperti halnya kerja keras seluruh kakak-kakakku dalam menyokong uang studiku. Apalagi saat ini harga melambung!

Aku pun teringat pengalamanku mengikuti seleksi Teacher Training to Japan (Monbungso). Disamping dengan belajar keras tiada henti, aku pun menghiba pada Tuhan agar niatku untuk menuntut ilmu yang bermanfaat ke negeri orang dan membantu kakak-kakakku dikabulkan. Aku kumpulkan semua keponakan agar turut mendoakan keberhasilanku.  Aku juga mohon restu Ibu yang sempat keberatan jika aku harus pergi jauh. Dan thanks God, Tuhan kabulkan permintaan kami.

Pelajaran kedua yang kupetik adalah persatuan dan kesatuan hati juga merupakan kunci kesuksesan. Kami lima bersaudara bersatu padu, saling bantu membantu dalam segala hal yang baik, termasuk dengan kakak ipar. Dan kebiasaan mulia ini semoga akan menurun pada para keponakan kami, seperti hari ini Riyanto membantu membayarkan biaya daftar ulang dan mengantarkan Sulis ke UNNES serta menitipkannya di kos teman perempuannya. Fitri kemarin sempat pula mengambilkan formulir PBU Non Reguler UNY buat Sulis untuk jaga-jaga daftar kalau PMDK UNNESnya gagal.

Ya, kami memang dilahirkan untuk saling mengisi, bahu membahu menuju kebahagiaan. Semoga Allah SWT yang Maha Esa selalu menyatukan hati kami dalam keimanan dan kebaikan. Amin.

 

June 16, 2008 Posted by | Uncategorized | 3 Comments

Kisahku Hari Ini

Pagi ini aku yang sudah mandi dan berpakaian rapi bergegas berjalan ke Aikyo Dai Mae Eki untuk mengejar bus yang akan membawaku ke Cyru.

Aku hendak berangkat ke  SMP di Nagoya untuk melakukan class observation atas perintah professor Sugiura, sensei pembimbingku. Ini adalah saat pertamaku berkunjung ke SMP Jepang!

Sampai di Kanayama, kuambil jalur Meijo menuju ke Sunadabashi Station. Cukup jauh, tetapi menyenangkan karena sudah lama aku tidak naik Cikatetsu ke Nagoya.

Sekitar 30 menit kemudian, aku keluar dari ichibang  deguchi dan saat kubuka jam ponselku, waktu menunjukkan pukul 10.43. Ah, masih lama, pikirku. Aku sudah janjian dengan rekan untuk ketemuan di Eki pukul 11.30. Kami akan masuk ke SMP bersama-sama. Kulihat ke sekeliling. Aku mencari kantor pos! Ya, aku akan mengirimkan sepucuk surat penting buat keponakanku di UNY.

“Sumimasen, koko de yubingkyoku ga arimasuka?” tanyaku dengan bahasa Jepang yang terpatah-patah pada seorang Bapak berusia 50 tahunan. Beliau tengah menuntun sepeda, hendak menyeberang jalan.

Sambil menjawab, Bapak itu menunjuk ke arah kantor pos yang letaknya kurang lebih 500 meteran dari Eki.

“Indonesiajin desuka?” Beliau balik bertanya.

“Hai, sodesu.”

“Indonesia de ita kotoga arimashita. Bali de.” Aku mengangguk kagum sembari mengikuti langkahnya menuju ke kantor pos. Selama perjalanan beliau banyak bercerita, tetapi aku tidak terlalu paham kata-katanya. Jadi, aku hanya bilang “hai” “hai” saja.

Tiba di kantor pos, sang Bapak menuju ke loket dan memberitahu petugas bahwa aku mau berkirim EMS. Usai menulis lengkap alamat yang dituju dan identitasku sendiri, segera kumasukkan dokumen ke dalam amplop besar.

Selesai menimbang berat surat yang akan kukirim, si petugas bilang ongkosnya 1100 yen. Kubuka tas dan kuambil dompet. Ternyata di dalamnya cuma terdapat selembar uang 1000 yen, tidak kurang tidak lebih. Sang Bapak pun bertanya.

“Daijobu? Okane ga ……”

Segera kukeluarkan kartu ATM dan aku minta ijin ke belakang untuk mengambil uang. Eh, tak tahunya mesin sedang diperbaiki dan banyak orang antri. Sang Bapak dengan serta merta mengeluarkan dompet dari saku celananya dan mengambil selembar uang 10.000 yen, memberikannya ke petugas.

“Daijobu!” Cegahnya saat aku berusaha mencari uang recehan di dalam tas.

Setelah semuanya beres aku diajak keluar olehnya. Aku pun berkata ingin mengambil uang di ATM untuk mengembalikan ongkos yang telah beliau bayar.

“Daijobu!” “Nomu, Nomu! Tsukareta!” Beliau memberiku sebotol teh dingin yang diambil dari kotak depan sepedanya.

Arigato gozaimasu.”  Kami pun lantas kembali ke Eki sambil ngobrol. Eh lima menit kemudian ponselku berdering dan saat kuangkat seorang petugas kantor pos memberitahu bahwa ada barangku yang tertinggal. Ya, buku catatan mungilku. Aku lupa memasukkannya kembali ke tas usai menuliskan alamat lengkap keponakanku.

“Cotto matte. Koko de  matte kudasai!” Begitu kira-kira ucapannya memintaku menunggu. Dia mengayuh sepeda othelnya ke kantor pos untuk mengambilkan bukuku.

“Ya Allah, baik banget Bapak itu!” gumanku melihatnya ngebut.

Tiga menit kemudian sang Bapak kembali dan menyerahkan buku kecilku.

“Arigato gozaimasu,” ucapku sambil membungkukkan badan berkali kali.

Di akhir pertemuan sang penolong itu menuliskan nama dan nomor teleponnya di buku.

“Kyotsukete kudasai!” pesannya, menjabat tanganku dengan erat dan kemudian mengayuh sepedanya ke arah supermarket.

Di Eki aku menceritakan pengalamanku pada Ken san, rekanku yang juga tutor di kaikang.

“Tuswadi, be careful with strangers. It’s dangerous! Today he gives you money, but who knows in another day he asks for more money from you!”

Aku tertegun mendengarkan komentar Ken san. Ya, dia benar! Aku memang harus hati-hati dengan orang yang tidak kukenal. Tetapi hari ini aku belajar satu hal; betapa pemurahnya Allah SWT!

“Did you give him your phone number?” tanya Ken.

“No. He didn’t ask for anything from me.”

“That’s good! Never give your identity info to any strangers!”

Kami pun kemudian melangkah menuju ke SMP  dekat Eki. Siap untuk menjadi pengamat!

Hari ini adalah kedua kalinya aku ditolong nihongjing menemukan kantor pos! Empat bulan yang lalu di Motoyama aku ditolong seorang Ibu, dan hari ini sang penolong itu seorang Bapak. Kombinasi yang sempurna!!!!!

 

 

 

June 9, 2008 Posted by | Uncategorized | 1 Comment

Satonah

Setiap tahun ada saja murid top di sekolahku. Tahun ini siswa beken itu bernama Satonah. Tidak beda dengan sosok pada tahun-tahun sebelumnya, Satonah berasal dari keluarga kurang mampu. Ayah ibunya petani biasa dan mereka tinggal di rumah berdinding kayu.

Saat ini Satonah hampir selesai sekolah. Katanya dia optimis lulus usai menyelesaikan UNAS yang materi pelajarannya ditambah 3 (fisika, kimia, dan biologi). Belum lama ini  kami usahakan dia mendaftarkan diri di PBUTM UGM. Tetapi dia belum beruntung .

Kabar terakhir dia diterima PMDK UNY. Pilihan studinya Pendidikan Bahasa Inggris! Ya, dia ingin menjadi guru seperti aku meski berkali-kali ragu, lebih-lebih keluarganya. Apakah mampu mereka membiayai kuliahnya?

Keadaan seperti ini sudah dialami oleh senior-seniornya. Ida adalah murid cerdas yang berhasil kami perjuangkan kuliah di UGM gratis melalui PBUTM . Ida mengambil jurusan Sastra Inggris. Dasar anak, sudah diterima di UGM dan gratis, sempat pula dia mau mundur karena takut tidak bisa bertahan, alasan biaya. Kuliahnya memang gratis, tetapi bagaimana dengan uang makan dan kos?

Akhirnya untuk meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja, aku undang orang tuanya Ida ke sekolah. Di ruang Kepala Sekolah kami nasehati Ida dan Ayahnya supaya optimis dan mau berkorban. Yang menggembirakan adalah ibunya Ida tengah bekerja di LN sehingga kami yakin beliau akan bisa membiayai kebutuhan Ida selama kuliah.

Hari pun tiba! Aku antar kedua murid terbaikku (Ida dan Sahid) untuk daftar ulang di UGM. Menjelang keberangkatan, aku ajak rekan-rekanku untuk kasih sumbangan ala kadarnya buat transport pulang pergi keduanya. Alhamdulillah perjalanan  lancar dan daftar ulang pun berlangsung mulus.

Di tahun pertama, aku sisihkan sedikit uang untuk membantu Ida. Sahid sendiri bagaimana? Karena suatu hal dia mengundurkan diri dan lebih memilih jurusan pendidikan bahasa Inggris di UNSIQ Wonosobo.

Aku juga sempat mengajak sahabatku, Mas Yunan, yang bekerja di pertambangan Kalimantan untuk menyokong. Tiap awal bulan aku sempatkan waktu antri di BRI untuk transfer ke rekening tabungannya Ida.

Di tahun kedua Ida bercerita bahwa salah satu temannya (puteri dosen) mengajaknya tinggal bareng di rumahnya. Anak itu semata wayang sehingga butuh teman. Akhirnya dia tinggal di sana gratis termasuk urusan makan.

Sekarang Ida kuliah di semester 4, kalau tidak salah. IP-nya selalu cumlaud tiap semester; hampir 4.00. Dia hebat!

Sahid pun tidak kalah dengan Ida. Di UNSIQ dia dapat bea siswa, sehingga biaya kuliah yang ditanggungnya cuma 50%. Dia sempat berhenti setahun, sehingga sekarang dia baru semester 2. Uniknya, Sahid juga bekerja di SD dekat rumahnya (mengajar bahasa Inggris). Lumayan, honornya bisa untuk tambah uang transport ke kampus tiap berangkat kuliah. Sebelum di SD, Sahid memang sempat aku training untuk menjadi tentor bahasa Inggris anak SD. Awalnya dia kuminta jadi observer setia tiap kali aku atau isteriku mengajar anak-anak SD di rumah (kursus bahasa Inggris). Beberapa bulan kemudian, aku ijinkan dia jadi teaching assistant dan lambat laun dia lihai mengajar mandiri. Sampai sekarang, selain di SD, Sahid mengajar 4 jam seminggu di tempat kursus kami tanpa mengganggu jadwal kuliahnya. Tak kalah dengan Ida, selama dua semester ini IP Sahid juga cumlaud! Sampai-sampai dosen di kampus menyangka Sahid itu alumni Akademi Bahasa Asing (D3) yang transfer kuliah ke UNSIQ saking menonjolnya dia. Bahasa Inggris Sahid itu fasihnya minta ampun; tak aneh saat ikut lomba pidato bahasa Inggris tingkat karesidenan dia juara I.

Selain Ida dan Sahid, aku masih punya 1 lagi murid hebat! Ari Wardana namanya, mantan ketua osis. Dia kakak kelas Ida dan Sahid. Sejak kelas I SMA, aku aktifkan dia di kegiatan english club. Saat lulus SMA, dia juga tidak bisa lanjut ke PT karena alasan biaya.

Akhirnya aku sarankan Ari untuk kuliah bahasa Inggris jarak jauh (mirip UT) ikut Sekolah Tinggi Bahasa Asing British International Jakarta. Waktu itu biaya pendaftaran dan uang kuliah semester 1 sementara aku yang tanggung.  Seperti halnya Sahid, Ari pun aku train jadi tentor bahasa Inggris anak-anak SD. Setelah mantap; aku promosikan dia sebagai pengajar bahasa di sebuah SD dan diterima, walaupun bayarannya mungkin hanya cukup untuk transport pulang pergi, tetapi aku yakinkan dia bahwa pengalamannya mengajar itu justru yang lebih berharga.

Hingga sekarang baik Ari dan Sahid aktif mengajar bahasa Inggris anak-anak SD di sejumlah lembaga kursus. Kemampuan mereka luar biasa; tentunya setelah tak lelah berlatih dan tidak loyo meskipun aku sering mengkritiknya habis-habisan saat mereka tampil jelek di hadapan murid-murid.

Aku yakin suatu hari nanti pelajar-pelajar hebat ini akan menjadi guru atau bahkan dosen bahasa Inggris yang handal.

Akankah Satonah mengikuti jejak Ida, Sahid, dan Ari? Aku berharap dan sangat berharap “Ya”. Tetapi semuanya kembali pada niat dan tekad Satonah beserta keluarganya. Aku tidak bisa berbuat banyak untuk semua murid-muridku. Aku hanya bisa mendorong; menyemangati; kalau mampu  berbagi rejeki.

Selamat berjuang murid-muridku! Masa Depan Cerah menantimu!

 

May 21, 2008 Posted by | Uncategorized | 3 Comments

Mengenang Guruku

Usiaku sudah kepala 30, dan malam ini aku mencoba-coba ingat guru-guru yang pernah mengajar dan mendidikku dari TK sampai PT.

Di TK, aku masih ingat dua nama guru; Ibu Titis dan Ibu Surati. Guru pertama merupakan sosok sepuh yang serba lemah lembut dalam bertutur kata. Sedangkan guru kedua lebih muda daripada Ibu Tititis dan beliau juga lemah lembut selama mengajar kami.

Dulu Ibu Titis sering mengajak murid-muridnya naik andong (dokar) ke pasar yang jaraknya tidak lebih dari setengah kilo. Kami senang! Karena bersama orang tua, kami belum tentu sanggup bayar ongkos naik dokar itu. Kami tidak tahu bagaimana Bu Titis membayar ongkos kami semua. Pokoknya habis jalan-jalan naik andong, kami jadi tambah semangat mengikuti pelajaran yang diberikan.

Bu Surati mudah kuingat karena nama beliau mirip dengan nama ibuku; Rati. Ibunya Bu Surati tinggal tidak jauh dari rumahku, sehingga selain di sekolah, aku juga sering bertemu beliau di jalan saat beliau dalam perjalanan ke rumah ibunya.

Setiap kali aku melihat Ibu Surati di jalan, buru-buru aku biasanya pasang muka di tepi jalan. Dan saat beliau lewat di depan rumahku, aku segera menyapanya:

“Bagai tindhak pundhi, Bu?” Kalimat ini selalu kugunakan saat bertemu Ibu Guru di jalan. Karena kebiasaanku rajin menyapa guru di jalan, baik Bu Titis maupun Bu Surati mengenalku dengan baik. Terakhir aku bertemu Bu Surati di depan kantor BKD Kabupaten; saat itu beliau sedang memeriksa hasil seleksi CPNS putrinya di papan pengumuman. Saat kusapa, beliau bercerita bahwa putrinya lolos, begitu pula dengan keponakannya.

Bu Titis aku jarang bertemu, tetapi penampilannya masih kuingat dengan jelas. Sebagai sesepuh, beliau selalu menggelung rambut panjangnya dan menutupnya dengan kerudung mirip selendang. Seperti Cut Nya Dien!

Di SD lebih banyak guru yang aku ingat. Bu Maryamah, Bu Tentrem Hidayati, Bu Siti Maryati, dan Bapak Rustam.

Bu Maryamah adalah guru tersepuh du sekolahku saat itu. Waktu di kelas I, beliau mengajari kami menulis dan membaca, juga Matematika. Suaranya lemah lembut dan agak serak-serak. Beliau mengenal ayahku dengan baik.

Bu Tentrem Hidayati mengajarku di kelas VI, menjelang kelulusanku dari SD. Guru yang satu ini gaya bicaranya tegas dan keras sehingga seisi kelas dapat mendengarkannya dengan baik. Beliau mengajar PMP atau PPKn. Aku suka cara mengajarnya, tak aneh aku tidak pernah mengantuk selama pelajarannya. Beliau juga lihai sekali memilih anak-anak yang potensial untuk ikut lomba; tidak pilih kasih lebih tepatnya. Aku bercita-cita menjadi guru juga karena terpengaruh oleh sepak terjang beliau di sekolah.

Bu Siti Maryati mirip Bu Titis, rambutnya yang panjang selalu digelung dengan unik. Tutur katanya juga tak kalah lemah lembut. Beliau mengajar Bahasa Indonesia saat kami duduk di kelas V. Darinya aku belajar mengarang! 

Bapak Rustam adalah sosok guru galak menurutku. Selain cara bicaranya yang keras, beliau juga sering menghukum muridnya yang “salah”. Aku pun pernah kena hukumannya; disuruh keluar dari kelas karena terlihat berkeliaran saat pelajaran (ketika itu beliau sedang di kantor). Dari beliau aku belajar apa itu disiplin. Cara mengajarnya bagus! Matematika yang kuanggap sulit, bisa kupahami dengan belajar bersamanya saat duduk di kelas 3. Teknik menerangkan materinya tidak bertele-tele.

Di SMP aku paling ingat pada Ibu Eko Purwati, karena gaya mengajarnya mirip Bu Tentrem; serba tegas dan semangat! Aku selalu menggebu-gebu mengikuti pelajarannya (Sejarah dan Ekonomi). Tak aneh nilai ulanganku sering 9!

Di SMA, Bapak Budi dan Ibu Mami adalah guru favoritku. Pak Budi mengajar PPKn; dan aku kagum dengan kesederhanaannya. Bu Mami lain lagi; guru bahasa Inggris yang satu ini suka aneh-aneh bikin peraturan saat ulangan. Pertama, anak-anak disuruh mengangkat kedua tangan ke atas, kemudian supaya mengambil semua yang ada di meja dan memasukannya ke dalam tas (di laci tidak boleh). Meja bersih! Kecuali ada bulpen dan kertas untuk jawaban. Dilarang keras tengok kanan kiri atau mengintip ke depan or ke belakang. Pada detik-detik waktu tes habis, kembali beliau menyuruh kami mengangkat kedua tangan ke atas dan kemudian beliau mengambili lembar jawaban kami.

Aku suka bahasa Inggris, jadi cukup semangat juga aku belajar bersama Bu Mami dan berkat dorongannya baik langsung atau tidak langsung, aku tertarik kuliah di jurusan pendidikan bahasa Inggris dan menjadi guru! 

Di PT aku paling terkesan dengan cara mengajar Mr. Mc Allister dari Kanada. Beliau kaya improvisasi dalam menyampaikan materi dan amat dekat dengan kami selama di kelas. Untuk menjadi guru seperti beliau sepertinya amat melelahkan; tubuhnya tidak pernah diam, sambil menerangkan materi, beliau berkeliling dan melayani satu persatu mahasiswanya. Di luar kelas, beliau juga mempersilakan kami untuk bertandang ke rumah tinggalnya untuk berbagi custom dan culture. Dengan jalan ini kemampuan berbahasa inggris kami pun terasah!

Ya, ada banyak guru yang sampai sekarang masih kukenang, karena dari merekalah aku belajar hidup dan kehidupan. Dan hal yang paling membahagiakan aku adalah guru-guru istimewa ini hingga kini selalu sehat wa’alfiat dan bahagia.

Saat kusempatkan silaturakhami ke tempat tinggal mereka, semuanya menyambutku dengan hangat, dan bahkan ada yang sempat menitikan air mata. Mereka bahagia dan bersyukur bahwa muridnya yang dahulu pernah diajar dan dididiknya telah menjadi seorang guru dan berkeluarga.

“Ini Tuswadi, murid saya dulu. Dia dulu pintar dan tidak pernah sekalipun membolos. Dia sudah jadi guru SMA,” ucap beberapa dari guruku memperkenalkan aku dengan keluarganya di rumah.

Tentunya aku bangga dengan kata-kata itu dan ini semakin mendorongku untuk berusaha menjadi guru yang lebih baik, seperti sosok guru-guruku di atas.

Di samping guru-guru di lembaga formal, aku jelas memiliki guru istimewa yang kupanggil “Biyung” dan “Rama”. Mereka adalah kedua orang tuaku yang begitu sabar dan tegar merawat dan mendidikku menjadi anak yang semoga berguna bagi agama, nusa dan bangsa.

May 13, 2008 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.